h1

OUTLOOK PASAR MODAL 2008, Panen Raya Saham Belum Berakhir

January 10, 2008
09/01/2008 23:50:00 WIB
Oleh Arinto Triwibowo
JAKARTA, Investor Daily
Panen raya para investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum akan berakhir. Perolehan keuntungan (gain) hingga ribuan persen selama 2007 akan berlanjut tahun ini.
Pemberian insentif berupa pemotongan pajak penghasilan (PPh) 5% bagi perusahaan yang melepas sedikitnya 40% sahamnya ke publik bakal memicu masuknya sejumlah perusahaan besar ke bursa.
Performa indeks harga saham gabungan (IHSG) yang memuncaki pertumbuhan di Asia Tenggara dan ketiga terbesar di Asia Pasifik tahun lalu juga makin memperkuat minat investor berinvestasi di saham. Selama 2007, indeks mencatat gain 52,1%.
Likuiditas saham yang meningkat dengan nilai kapitalisasi pasar menggelembung menjadi Rp 2.539 triliun akhir tahun lalu ikut menyedot para pemburu gain.
Tahun ini, upaya otoritas bursa mematok pencatatan saham emiten baru 30 perusahaan, atau meningkat delapan emiten dibanding realisasi 2007, akan menjadi momentum bagi pemodal untuk menambah pundi-pundi investasinya. Selain itu, BEI menargetkan pencatatan tambahan (rights issue dan saham bonus) 37 emiten. Target rata-rata nilai transaksi harian pun dipatok Rp 3,35 triliun.
Peluang mereguk gain dari investasi saham ini juga akan ditopang rencana Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melepas 12 BUMN, di antaranya melalui skema penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Pemerintah menargetkan minimal enam BUMN go public sepanjang tahun ini.
Secara prosedural, otoritas pasar modal juga aktif memberikan kemudahan bagi calon emiten. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memangkas jangka waktu pemberian pernyataan efektif perusahaan yang akan menawarkan sahamnya dari 45 hari menjadi 35 hari.
IHSG Naik 50%
Bakal maraknya IPO BUMN maupun swasta selama 2008 tersebut diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan indeks 30-50%. Keberhasilan IPO BUMN sebelumnya dan komitmen tinggi dalam memberikan keuntungan (gain) sertadividen akan menjadi pertimbangan investor untuk mengoleksi saham-saham BUMN.
Kepala Riset PT Mega Capital Indonesia Felix Sindhunata berpendapat, outlook 2008 untuk pasar saham diperkirakan membaik. ”Rencana IPO BUMN dan swasta bakal diserap pasar. Apalagi, bila sektornya cukup bagus,” jelas Felix.
Selama 2008, lanjut dia, pergerakan indeks cenderung positif dan hingga akhir tahun akan berada di kisaran 3.460-3.625. Meski sebagian analis menyebut level 3.200-3.500. Saham-saham sektor pertambangan, khususnya batubara, perkebunan, perbankan, telekomunikasi, dan otomotif akan cukup prospektif tahun ini.
Namun, pengaruh bursa regional dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada semester I-2008, serta laju inflasi masih akan membayangi pergerakan indeks tahun ini. 
Pengamat dan praktisi pasar modal David Cornelis menyoroti pengaruh harga minyak dunia yang berpotensi naik di atas US$ 100 per barel. Selain itu, dampak krisis subprime mortgage di AS yang akan terlihat pada laporan keuangan 2008 juga akan memengaruhi pasar saham.
Namun, angka inflasi yang terkendali selama 2007 dan diekspektasikan 6% pada 2008 akan menjadi katalis pergerakan indeks. Inflasi rendah membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate).
Di sisi lain, pemberian insentif pajak akan menjadi perhatian serius pelaku pasar. Apalagi, ketentuan yang dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) itu berlaku surut mulai tahun ini.
Peraturan pemerintah yang bertujuan mendorong perusahaan meningkatkan jumlah saham yang dilepas kepada publik itu, menurut Dirjen Pajak Departemen Keuangan Darmin Nasution, mampu menaikkan IPO saham sebesar 20%.
Dalam pandangan David Cornelis, insentif pajak merefleksikan valuasi yang meningkat atas kesehatan keuangan perusahaan. ”Terus meningkatnya partisipasi investor, baik dalam maupun luar negeri akan meramaikan bursa selama 2008,” jelasnya.
Sementara itu, produk reksa dana, terutama yang berbasis saham di Indonesia juga akan terus tumbuh tahun ini. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana pada akhir 2007 yang mencapai Rp 91,5 triliun, sekitar 37,75% dikontribusi reksa dana saham. Kondisi itu mengindikasikan tingginya kesadaran masyarakat untuk kembali berinvestasi pada instrumen saham selama 2008.
Berdasarkan data Bapepam, reksa dana saham merupakan penyumbang terbesar terhadap total NAB selama 2007. Disusul reksa dana pendapatan tetap sebesar 23,55%, terproteksi 17,86%, campuran 15,45%, pasar uang 5,18%, dan Exchange Traded Fund (ETF) 0,09%.
Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Legowo Kusumonegoro menilai, reksa dana masih menjadi alternatif investasi. Pertumbuhannya secara konservatif bisa mencapai 25-30%. Tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang hanya 7-8% dapat mendorong pengalihan investasi ke pasar modal, sehingga dana kelolaan reksa dana meningkat.
Meski demikian, perkembangan reksa dana pada 2008 akan dipengaruhi likuiditas global, ancaman resesi di AS akibat imbas krisis subprime mortgage dan tingginya harga minyak dunia.
SUN Rp 90 Triliun
Untuk pasar obligasi, tingkat BI rate yang diperkirakan stabil selama 2008 membuat ruang kenaikan harga surat berharga tersebut terbatas. Tahun ini, dalam kajian analis, pemerintah diperkirakan menerbitkan surat utang negara (SUN) sekitar Rp 90 triliun, atau meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya Rp 40-50 triliun.
Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto optimistis, pasar SUN 2008 diprediksi membaik, karena masih menjadi incaran investor asing. Selain menawarkan imbal hasil (yield) menarik, risiko likuiditas semakin kecil. Investor asing pun memburu SUN bertenor di atas 10 tahun. “Dibanding kawasan Asia, SUN di dalam negeri lebih menarik bagi investor,” jelas Rahmat.
Ekspektasi membaiknya pasar SUN tahun ini terindikasi dari rata-rata volume dan frekuensi transaksi harian selama 2007 Rp 5-6 triliun. Selain itu, minat investor atas SUN terlihat dari kelebihan permintaan (oversubscribed) rata-rata 2,53 kali pada setiap emisi di pasar perdana selama 2007.
Pada akhir Desember 2007, investor asing mengoleksi SUN sebesar Rp 78,6 triliun, ekuivalen 16,36% dari total SUN beredar yang dapat diperdagangkan sebesar Rp 477,75 triliun. Tahun ini, potensi pasar surat berharga negara (SBN), termasuk SUN dan surat berharga syariah negara (SBSN) meningkat dari Rp 286,9 triliun menjadi Rp 325,9 triliun.
Dian Abdul Hakim, analis obligasi PT Trimegah Securities menambahkan, sekitar 20 perusahaan juga akan menerbitkan obligasi senilai total Rp 30-40 triliun tahun ini. Sementara itu, obligasi korporasi yang jatuh tempo sekitar 20 emiten senilai Rp 17 triliun. Tahun lalu, realisasi penerbitan obligasi naik 130% menjadi Rp 30,2 triliun dibanding 2006 Rp 11,55 triliun.
Meski demikian, Head of Debt Research PT Danareksa Sekuritas Budi Susanto memperkirakan, pasar obligasi cukup volatile, sehingga investor harus berhati-hati. Menurut Budi, investor masih berpeluang untuk meraup keuntungan dari instrumen obligasi, meski tidak sebesar 2007.
Budi menjelaskan, tingkat inflasi di dalam negeri akan menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar obligasi selama 2008. Walaupun, suhu politik menjelang Pemilu 2009 diperkirakan tidak berpengaruh besar terhadap kondisi pasar. Dalam pandangan dia, pasar obligasi diperkirakan marak hingga kuartal III-2008. (c108/ c114/asp/jjr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: