h1

Obama, buah demokrasi

June 7, 2008

Seminggu terakhir ini, nama Indonesia berulang kali muncul di media massa Amerika Serikat. Beruntungnya, hal itu tidak terkait dengan kerusuhan di Monas, pada 1 Juni, tetapi lebih tentang sesuatu yang sifatnya positif.

 

Barack Obama menyebut latar belakang hidupnya dinamis. Hal ini bukan hanya karena orangtuanya berasal dari negara yang berbeda (Kenya dan AS), tetapi juga karena keluarganya membesarkan dia di tempat yang berbeda-beda, salah satunya di Indonesia. “I was raised in Indonesia.” Kalimat itu selalu dia sampaikan ketika berpidato di depan audience yang heterogen.

 

Obama mencatat sejarah sebagai orang kulit hitam (African American) pertama yang mampu menerobos dominasi politik kulit putih dan muncul sebagai calon presiden dari kubu Partai Demokrat, menyingkirkan Hillary Rodham Clinton yang sangat ambisius.

 

Perjalanan Obama sampai ke titik itu tidak mudah, mengingat lawan yang dikalahkannya bukan tokoh sembarangan. Hillary Clinton adalah pengacara dan senator yang disegani dan berpengalaman selama delapan tahun sebagai ibu negara yang aktif ketika suaminya, Bill Clinton, menjabat presiden.

 

Ketika kampanye dimulai, sedikit orang yang percaya bahwa senator dari Illionis itu, yang tidak dikenal oleh lobbiest di Washington, bakal mampu menghadang Hillary. Ternyata, segala keunggulan Hillary malah menjadi bumerang baginya. Suaminya lebih menjadi beban daripada aset. Tim kampanyenya dirongrong pertentangan internal. Hillary didera kesulitan keuangan sehingga gerak-geriknya menjadi terbatas.

 

Ini semua berbalikan dari Obama. Tim kampanyenya sangat kompak. Beberapa ahli komunikasi yang terdepak dari tim Hillary bahkan bergabung dalam tim Obama. Soal uang, tidak masalah. Obama bersandar pada relawan, yang jumlahnya mencapai 1,5 juta orang, untuk mengumpulkan dana kampanye. Dengan dana yang lebih dari cukup, Obama leluasa pergi ke kantong-kantong pemilihan yang tak terjangkau Hillary.

 

Sejarah pun berpihak pada Obama.

 

Empat dekade lalu, ketika politik segregasi (pemisahan) masih berlaku, tidak terbayangkan seorang pria kulit hitam dapat menjadi calon presiden AS. Barangkali Martin Luther King Jr, pejuang hak asasi kulit hitam AS, tersenyum di alam sana menyaksikan perkembangan yang tidak terduga ini.

 

Ya, tidak terduga, karena sebagian besar jajak pendapat menunjukkan warga kulit putih AS sesungguhnya belum siap memiliki calon presiden kulit berwarna. Namun, Obama menjungkirbalikkan semua prediksi.

 

Dia tampaknya berada di tempat yang tepat dan waktu yang tepat pula, yakni ketika masyarakat mempertanyakan manfaat perang di Irak dan mengeluhkan kelesuan ekonomi. Rakyat menginginkan perubahan. Ini cocok sekali dengan tema kampanye Obama, Change!

 

Keberhasilan Obama tidak hanya karena dia orator ulung, tetapi terutama karena kemampuan tim kampanyenya menangkap aspirasi dari bawah dan menjadikannya agenda kampanye (bottom-up) yang lintas ras. Dia tidak bersandar pada mesin partai yang mekanistis, tetapi menggunakan kelompok-kelompok relawan independen dan membangun jaringan untuk menyebarkan gagasan.

 

Mampukah Obama menorehkan sejarah (lagi) dengan menjadi presiden kulit hitam pertama di Gedung Putih? Jalan ke sana terjal, keras, dan berliku-liku mengingat John McCain, pesaingnya dari Partai Republik, adalah lawan yang tangguh. Apa pun hasilnya nanti, perkembangan politik di AS memperlihatkan buah manis demokrasi, yang membuka lebar kesempatan bagi siapa saja untuk berkompetisi secara fair di kancah kekuasaan. Demokrasi menghadirkan kemungkinan dari ketidakmungkinan. ( http://www.bisnis.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: